Macrocephalon maleo merupakan spesies burung endemik asli Sulawesi yang termasuk dalam bangsa aves yang memiliki perilaku unik dan aneh karena menyimpan telurnya didalam tanah/pasir. Saat ini, burung maleo masuk dalam daftar 25 spesies prioritas perlindungan yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Kementerian LHK sebagai upaya pelestarian spesies langka Indonesia. Salah satu daerah, Kabupaten Banggai menjadikan M. maleo menjadi maskot kota sebagai media komunikasi kepada masyarakat akan pentingnya kelestarian burung maleo. Hal ini berkaitan dengan budaya setempat yaitu Tradisi Adat Molabot Tumpe yang memakai telur burung maleo sebagai objek dalam ritual adat dan terus bertahan hingga kini. Selain itu, masyarakat sekitar habitat terutama di area penetasan telur kerap memanfaatkan telur maleo sebagai sumber makanan bergizi secara besar-besaran sehingga mengancam kelanjutan perkembangbiakan populasi.
Burung maleo memiliki distribusi yang terbatas dan hidup menjauh dari aktivitas manusia karena burung ini termasuk kedalam golongan burung megapode yang memiliki cara terbang yang buruk untuk dapat menghindari dari predator seperti manusia. Secara umum, burung maleo menghabiskan waktunya dengan beraktivitas di lantai hutan. Dalam buku hasil catatan perjalanan Alfred Russel Wallacea di Nusantara pada tahun 1854 hingga 1862 menjelaskan bahwa, burung maleo sering ditemukan di atas hamparan pasir sekitaran pantai dan mempunyai aktivitas menggali lubang dengan pasanganya (Wallacea 1869). Pakan burung maleo merupakan sebagian besar biji-bijian seperti padi, kacang tanah, jagung kuning, kacang ijo, kedelai, dan kemiri serta daging buah seperti daging kelapa (Sodhi et al. 2011; Gunawan 2004). Habitat burung maleo terancam mengalami degradasi oleh pembangunan industri seperti pembukaan lahan untuk penambangan, perkebunan kelapa sawit dan pertanian yang berakibat pada fragmentasi habitat dan terganggunya proses perkembangbiakan.
Kelestarian burung maleo terancam dari berbagai sisi, memengaruhi keseimbangan ekosistem dan ekologi hutan setempat. Oleh karena itu diperlukan upaya konservasi yang melibatkan berbagai pihak mulai dari masyarakat, organisasi setempat, serta pemerintah daerah. Saatnya memperkenalkan metode konservasi yang berlandaskan nilai-nilai sosial-budaya melalui cara yang dapat diterima berbagai pihak. Selain itu, kontrol dan monitoring pemanfaatan telur burung maleo sangat diperlukan dengan menyeimbangkan produksi telur dan manfaatnya. Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan, berbagai teknologi dapat diintegrasikan untuk menciptakan suatu sistem konservasi yang efektif dan inklusif.
Referensi:
Gunawan H. 2004. Preferensi dan konsumsi pakan anak burung maleo (Macrocephalon maleo Sal.muller) dalam masa penyapihan. Jurnal Penelitian dan Konservasi Alam. 1(1): 58-66
Sodhi NS, Sekercioglu CH, Barlow J, Robinson SK. 2011. Conservation of Tropical Birds, First Edition. India: Blackwell Publishing Ltd.
Wallacea AR. 1876. The Geographical Distribution of Animals: With A Study of The Relations of Living And Extinct Faunas As Elucidating The Past Changes of The Earths Surface. New York (USA): Harper & Brothers, Publishers.
Photo:
Kevin Schafer.IUCN



Leave a Reply